Tol Getaci Gagal Lelang Dua Kali, PULKIS: Pemerintah Harus Tinjau Ulang Strategi Pengadaan

Jakarta – Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS) baru-baru ini menyoroti kegagalan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikenal sebagai Jalan Tol Gedebage – Tasikmalaya – Cilacap, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tol Getaci. Proyek ini telah mengalami dua kali kegagalan dalam proses lelang, yang mengindikasikan perlunya evaluasi mendalam terhadap strategi pengadaan proyek oleh pemerintah.
Kegagalan Lelang dan Implikasinya
Direktur Eksekutif PUKIS, M. M. Gibran Sesunan, mengungkapkan bahwa ketidakmampuan proyek ini untuk menarik minat investor menjadi salah satu alasan utama kegagalan lelang. “Setelah dua kali lelang, proyek ini masih belum mendapatkan perhatian yang cukup dari para investor. Ini adalah sinyal bahwa pemerintah harus mempertimbangkan kembali pendekatan mereka dalam pengembangan proyek ini,” ujarnya.
Dalam lelang pertama, Tol Getaci sempat mendapatkan investor, namun konsorsium yang memenangkan lelang tersebut gagal memenuhi kewajiban finansial yang diperlukan, sehingga pemerintah harus melaksanakan lelang ulang. Sayangnya, upaya kedua ini pun tidak membuahkan hasil yang diharapkan.
Pertanyaan Tentang Strategi Pemerintah
Keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada langkah-langkah mitigasi yang diambil oleh pemerintah. Gibran mempertanyakan sejauh mana pemerintah telah mempersiapkan strategi alternatif untuk memastikan kelangsungan proyek Tol Getaci. “Jika tidak ada perubahan dalam strategi pembangunan dan pengusahaan jalan tol ini, maka tidak ada gunanya melakukan lelang berulang kali,” tegasnya.
Gibran menekankan bahwa kegagalan lelang ini berpotensi berdampak signifikan terhadap proyek yang menghubungkan Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah, yang seharusnya menjadi infrastruktur vital bagi perekonomian kedua wilayah tersebut.
Pentingnya Badan Usaha Jalan Tol (BUJT)
Keberadaan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) sangat penting dalam proyek ini. Mereka bertanggung jawab untuk merencanakan, membangun, dan mengoperasikan ruas jalan tol tersebut. Selain itu, BUJT juga harus menyiapkan dana talangan untuk pengadaan tanah, terutama saat anggaran pemerintah belum siap digunakan.
Tantangan dalam Menarik Investor
Gibran menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan proyek jalan tol terpanjang di Indonesia ini kurang diminati oleh investor. Pertama, biaya investasi yang tinggi menjadi kendala, sementara proyeksi lalu lintas yang diharapkan dianggap tidak realistis. Ini mengakibatkan pendapatan dari tarif tol menjadi tidak signifikan bagi badan usaha yang berinvestasi.
- Biaya investasi yang sangat tinggi
- Proyeksi lalu lintas yang rendah
- Risiko tinggi dalam investasi infrastruktur
- Kondisi perekonomian yang tidak stabil
- Anggaran infrastruktur yang menyusut dalam APBN
PUKIS memperkirakan bahwa meskipun ada potensi lalu lintas yang tinggi dari Gedebage hingga Tasikmalaya, volume kendaraan dari Tasikmalaya ke Cilacap kemungkinan akan sangat rendah. Hal ini tentu saja mempengaruhi daya tarik proyek ini bagi calon investor, yang harus mempertimbangkan kembali potensi pengembalian investasi mereka.
Kondisi Ekonomi dan Iklim Investasi
Di tengah kondisi perekonomian yang fluktuatif, iklim investasi di sektor infrastruktur saat ini cenderung lesu. Calon investor lebih memilih untuk mengambil langkah aman dan menghindari risiko tinggi yang melekat pada proyek infrastruktur. Proyek-proyek ini memerlukan modal besar dan biasanya menawarkan pengembalian investasi dalam jangka panjang.
Selain itu, tampaknya infrastruktur bukan lagi menjadi fokus utama pemerintah saat ini, yang tercermin dari penurunan anggaran infrastruktur dalam APBN. Hal ini semakin menyulitkan upaya menarik minat investor untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek seperti Tol Getaci.
Rekomendasi untuk Tol Getaci
PUKIS mengusulkan beberapa langkah strategis agar proyek Tol Getaci dapat dilanjutkan. Salah satunya adalah partisipasi langsung pemerintah dalam pembangunan melalui skema dukungan konstruksi (dukon). Dengan pendekatan ini, pemerintah dan badan usaha dapat membagi beban anggaran dan pelaksanaan konstruksi, sehingga membuat perhitungan biaya investasi menjadi lebih masuk akal bagi calon investor.
Skema dukon ini telah diterapkan pada beberapa proyek jalan tol sebelumnya, seperti ruas Semarang-Demak dan Serang-Panimbang, yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan. Namun, Gibran menunjukkan skeptisisme terhadap komitmen anggaran pemerintah untuk mendukung konstruksi, mengingat anggaran infrastruktur selama pemerintahan saat ini sangat terbatas dan tidak memprioritaskan proyek jalan tol.
Peran Badan Pengelola Investasi
Alternatif lain yang dapat dipertimbangkan adalah menginstruksikan badan pengelola investasi milik negara, seperti Danantara atau INA, untuk terlibat langsung dalam proyek Tol Getaci. Gibran berpendapat bahwa jika pemerintah telah mengumumkan proyek ini kepada publik dan dunia usaha, maka sudah seharusnya Danantara atau INA berpartisipasi untuk memastikan keberhasilan proyek ini, apalagi jika tidak ada investor lain yang bersedia terlibat.
Revisiting Scope of Toll Road Management
Revisi dalam lingkup pengusahaan jalan tol juga bisa menjadi solusi. Salah satu caranya adalah dengan membagi ruas Tol Getaci yang terlalu panjang menjadi dua bagian, yakni Tol Gedebage-Tasikmalaya dan Tol Tasikmalaya-Cilacap. Dengan membagi proyek menjadi dua paket, beban biaya investasi setiap paket menjadi lebih ringan, sehingga lebih menarik bagi investor.
Gibran percaya bahwa pembagian lingkup pengusahaan ini akan memberikan manfaat bagi kelangsungan proyek. Tol Gedebage-Tasikmalaya, dengan kondisi eksisting yang lebih baik dan potensi lalu lintas yang tinggi, akan lebih mudah dijual kepada investor. Setelah permintaan pada ruas ini terbentuk, peluang untuk menawarkan ruas Tasikmalaya-Cilacap kepada investor akan semakin terbuka, mengingat konektivitas dan aktivitas ekonomi di sekitar akan mengalami peningkatan.
Gibran menekankan pentingnya adanya terobosan dari pemerintah untuk proyek Tol Getaci. Mengulangi proses lelang tanpa adanya kemajuan yang signifikan hanya akan memperpanjang stagnasi proyek. “Pembangunan sebaiknya difokuskan pada ruas Tasikmalaya terlebih dahulu untuk menghindari kebuntuan yang ada saat ini,” tutup Gibran.




